Beranda Perisitiwa Mengenang Percha Leanpuri ,Sosok Pemersatu tanpa Pandang Strata

Mengenang Percha Leanpuri ,Sosok Pemersatu tanpa Pandang Strata

95
0
BERBAGI

Nak …
Semenjak kepergianmu
Hatiku terbenam dalam pilu
Berdiripun
Tubuhku seperti tanpa tulang
Badanpun terasa remuk redam.

Nduk
Sulit rasanya membayangkan
Fase baru kami
Dilalui tanpa kehadiranmu
Tanpa renyah tawamu
Tanpa ramai suaramu
Tanpa ramah sapamu

Namun
Pergilah Nak
Bahagiamu disana
Bertemu keharibaanNya
Bahagiamu Nak
DipelukNya …

Kami iklhas Nduk
Kelak bagi ketiga buah hatimu
Akan menitis sejuta kebaikan
Bagi Danis, Dul dan Fiora
In sha Allah kami semua

….

Tulisan di atas adalah penggalan curahan hati Gubernur Sumsel H Herman Deru, sepeninggal putri tercinta Hj Percha Leanpuri yang disampaikan pada malam-malam takziah.

Banyak kata haru dan kalimat mencengangkan yang disampaikan Herman Deru selaku ayah mendiang Percha Leanpuri. Diantaranya kegigihan dan kerja keras gadis usia belia Titi (panggilan sayang Percha) ketika menjadi duta seni menjaga harum nama Indonesia. Rela mendatangi tempat-tempat yang jauh dari jangkauan komunikasi. Seperti negara miskin Myanmar. Mandiri saat sekolah diluar negeri dengan menjual Ayam Penyet untuk biaya kuliah. Hasilnya pun pendapatan puluhan juta perbulan. Cerita ‘heroik’ tentang almarhumah ini tersimpan rapat hanya untuk keluarga saja.

Ketika saya berkesempatan menulis biografi ayahnya Herman Deru, disaat masih menjabat sebagai Bupati OKU Timur periode pertama Titi memang sudah Diimpikan papanya untuk terjun ke panggung politik
Kendati sebenarkan aktivitas sosial Titi lebih kepada dunia seni.
“Titi itu saya inginkan terjun ke politik saja. Sepertinya dia berbakat. Apalagi darah politik mengalir ditubuhnya. Mulai dari dua kakeknya yang pesirah hingga Walikota Palembang dua periode. Dua kakeknya ini yang telah lebih dulu mengenal dunia politik,” kata Herman Deru di kediaman pribadinya di Taman Kenten.

Saat itu Titi yang manis masih menyelesaikan studinya di Akademi Victoria Universitas Kuala Lumpur Malaysia sehingga kontak secara personal dengannya jarang dilakukan. Saya justru diperkenalkan dengan Sasa, Leoni, dan Iva, tiga adik perempuannya. Jika tidak salah Iva saat itu masih kecil baru duduk di sekolah dasar.

Titi yang dipanggil sayang dengan sebutan Yunda bagi adik-adiknya itu kemudian muncul dipanggung politik.
Seperti sebuah meteor, dia membius simpati masyarakat melalui tampilan foto ‘genic’ nya dengan ciri khas sanggul modern separuh dahi tertutup rambutnya yang hitam. Dibalut kebaya hitam yang anggun, Titi mencalonkan diri pertama kali sebagai anggota DPD RI dari daerah pemilihan Sumatera Selatan.

Perempuan kelahiran Belitang 24 Juni 1986 inipun mampu merebut hati masyarakat Sumsel. Hal ini dibuktikan dengan perolehan nyaris satu juta suara. Titi kemudian terpilih menjadi anggota DPD termuda se Indonesia hasil Pemilu 9 April 2014 diurutan teratas. Masuk empat besar merupakan sebuah prestasi baginya. Bagi keluarga dan Sumatera Selatan.

Maka pada usia 23 tahun dia mencatat sejarah menjadi pimpinan DPD RI sementara bersama anggota tertua asal Maluku Utara, Mudafar Syah. Saat itu semua mata tertuju padanya. Saya masih ingat ucapannya saat dijumpai awak media disela-sela jeda sidang paripurna. “Mereka yang interupsi kan senior semua, jadi grogi deh,” ujar Titi saat ini.
Meski begitu, groginya dia dijadikan momen pembelajaran. “Tapi namanya pengalaman ya saya jadikan pembelajaran,” katanya.

Saat dilantik sebagai anggota DPD termuda sat itu Titi masih tercatat sebagai mahasiswi S2 di University of Ballarat, Malaysia. Kakak dari Samantha Tivani, Leony Marezza Putri dan Ratu Tenny Leriva ini menjajal kemampauan politiknya ke jenjang lain. Maju sebagai calon kepala daerah di Kabupaten OKU. Hanya saja dia belum beruntung dan memilih fokus di dunia bisnis. Percha kemudian kembali mencalon sebagai wakil rakyat dan terpilih sebagai anggota DPR RI hingga sekarang.

Nama Percha Leanpuri yang menikah 22 Juni 2012 dengan Dr Syamsuddin Suryamanggala ini, memang sangat familiar bagi siapa saja. “Nama ini familiar sekali. Tapi kami sendiri tidak pernah memanggil nama itu. Sehari hari dia dipanggil Nak, Nduk atau Titi. Nama Percha Leanpuri itu saya karang sendiri di teras Rumah Sakit Charitas ketika dia dilahirkan ditengah malam. Sebagai orang tua saya sampaikan rasa syukur kami. Bersyukur dititipkan oleh Allah SWT anak yang begitu berharga. Kami betul-betul bersyukur karena Allah titipkan dia menjadi bagian yang sangat mewarnai kehidupan kami,” kata Herman Deru dimalam ke tiga Takziah.

Anak Ideologis

Banyak keistimewaan dari Allah yang dimiliki Titi semasa hidupnya. Baik sebagai anak, kakak, dan cucu dalam keluarga besar Herman Deru.
Keistimewaan-keistimewaan diantaranya sejak lahir, begitu dia sudah menjadi pandangan semua orang. “Bolehlah saya ulas satu persatu Percha sebagai anak belum pernah saya marah. Karena saya tidak punya alasan untuk marah. Sebelum ditegur dia selalu berupaya membuat orang tuanya untuk tidak marah.

Sebagai kakak adik-adiknya belum pernah membantah kata-katanya, karenanya dia jadi panutan bagi adik adiknya. Apalagi sebagai cicit. Sejak kecil dia anak yang gampang begaul dan tidak pernah membedakan strata.
Dalam menjalankan tugas, Titi sangat bertanggung jawab. Ditengah hamil besar pun dia menyapa konstituennya diluar kota. Sebuah komitmen karena rasa tanggung jawab Titi. “Anak ini bisa mengelola ekprsesinya. Dibuktikan dia anak yang menjadi pemersatu. Percha itu bukan hanya anak biologis saya tapi juga anak ideologis saya.
Kami merasa sangat kehilangan karena kepergian Percha yang boleh dikatakan tiba tiba. Kendati begitu singkat kebersamaan bersamanya, tidak ada penyesalan dan menyalahkan sang pencipta atas kepergian Percha selamanya. Kami merasa ini sangat sebentar. Seperti baru kemarin saja. Namun kami ikhlas,” katanya Herman Deru sendu.

Kehilangan Titi tidak cuma dirasakan keluarga. Masyarakat Sumsel bahkan Presiden Jokowipun juga merasa kehilangan atas kepergian Titi.

Ketika saya menyusuri jalan sepanjang Demang Lebar Daun, hingga ke arah Musi II, ribuan karangan bunga bersusun di sisi kiri kanan badan jalan. Saking banyaknya karangan bunga, ada diantaranya yang diletakkan di bahu jalan ke arah Way Hitam dan bahkan masuk ke jalan-jalan dipemukiman warga di sekitar Rumah Dinas Gubernur, Griya Agung.
Tidak hanya itu, pelayat dari berbagai tempat ramai mengunjungi makamnya setiap hari. Menabur bunga, dan mengirim doa-doa untuknya. Begitulah ekspresi simpati dan rasa duka yang diungkapkan masyarakat atas kepergian Titi.

Kehidupan Baru

Kehilangan orang yang kita cintai akan tetap membekas dihati. Itupun yang dirasakan Herman Deru dan keluarga. “Saat ini ada fase bagi kami yakni beradaptasi dengan kehidupan baru tanpa Percha. Ini fase yang butuh waktu dan tidak mudah
Selama ini tiada hari tanpa Percha yang buat keluarga ini bahagia. Sosok sebagai anak bupati dan anak gubernur dia perankan. Meskipun dia tidak mem “publish” pemikiran-pemikirannya. Makanya kami betul-betul berayukur karena Allah titipkan dia menjadi bagian yg sangat mewarnai kehidupan kami.”

Selaku orang tua Deru mengucapkan terima kasih kepada masyarakat dan khalayak yang telah bersimpati serta turut berbelasungkawa atas kepergian putri sulungnya, Percha.

Sepekan sudah Titi pergi meninggalkan kita semua. Duka mendalam masih menyelimuti keluarga yang ditinggalkan. Adalah apa yang menjadi harapan Herman Deru dan keluarganya, agar segala kebaikan yang ditinggalkan Titi akan tetap hidup dihati kita semua.

Deru berharap, ketaatannya dalam menganut agama, caranya bergaul tanpa pilih strata, keteguhan hatinya, semangatnya, rasa tanggung jawabnya, totalitasnya, dan sikap rendah hatinya, hendaknya akan menjadi trendsetter dan tauladan terutama bagi kaum perempuan

Mendung masih menggantung di langit Palembang. Terkadang hujan turun sesekali membasahi bumi Sriwidjaya. Membasahi makan Percha yang selalu ditaburi bunga para pencintanya. Akankah kita seperti Percha. Didatangi, ditangisi dan didoakan tiada henti. Entahlah. Wallahu a’lam bishawab … Selamat jalan Titi. Kebaikanmu akan selalu terpatri disanubari terdalam…kami (ida syahrul)

LEAVE A REPLY