Beranda Ekonomi AAJI Dorong AnggotanyaTingkatkan Literasi dan KualitasTata Kelola

AAJI Dorong AnggotanyaTingkatkan Literasi dan KualitasTata Kelola

65
0
BERBAGI


Jakarta, Halosumsel-  Industri asuransi jiwa Indonesia memperlihatkan pertumbuhan positif pada banyak bagian kinerjanya di kuartal pertama tahun ini. Salah satunya ditunjukkan dengan adanya pertumbuhan positif di laporan pendapatan usaha untuk periode triwulan I 2021 daripuluhan perusahaan yang tergabung dalamAsosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI).

Jika sebelumnya industri asuransi jiwamencatat nilai minus hampir setengahtriliun rupiah di triwulan pertama tahun2020, maka kali ini tanda rebound mulaiterlihat di triwulan pertama tahun 2021 dimana industri asuransi jiwa mencatatkan pendapatan positif sebesar 62,66 triliunrupiah.

Optimisme tersebut terlihat dari pernyataan AAJI dalam Ringkasan Kinerja Industri Asuransi Jiwa. Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu, menilai bahwa untuk menjaga konsistensi dan momentum positifdalam industrinya, semua pihak perlu terusmelakukan literasi dan meningkatkan tatakelola untuk menjaga kepercayaanmasyarakat dan menumbuhkan kesadaranmasyarakat atas kebutuhan akan asuransijiwa.

“Mulai naiknya aktivitas dari masyarakatdan dunia bisnis terlihat dari meningkatnyapendapatan industri asuransi jiwa. Masifnya kenaikan premi dari bisnis baru dan positifnya hasil investasi di kuartal satu tahun ini membuat lonjakan pendapatan yang cukup tajam,” kata Togar.

Meski demikian, ia tetap mengingatkan semua kalangan untuk tetap bersatu padu menjaga kondusifitas penanganan pandemiCOVID19. Keberhasilan vaksinasi yangmendorong kembali pergerakanperekonomian saat ini akan memberikansumbangan besar pada potensi reboundpertumbuhan ekonomi makro dalam jangkapanjang.

“Bonus demografi yang akan terjadi hinggasatu dasawarsa ke depan sudahmenunggu. Kami di industri asuransi jiwa melihat potensi bisnis ini sangat besar. Penetrasi yang baru sekitar enam persen di Indonesia menjadi peluang pertumbuhan positif industri asuransi beberapa tahun ke depan. Kita perlumenyesuaikan moda penetrasi pasar baruagar bisa sejalan dengan protokolkesehatan yang ada,” jelas Togar.

Salah satu inovasi yang diharapkan bisa membantu pengembangan industri asuransi saat ini adalah penggunaanteknologi digital untuk pemasaran produkasuransi. Seiring dengan pengembanganteknologi, industri asuransi jugamengharapkan dukungan penuh dariPemerintah dan regulator dalam haltersebut.

Selain itu, AAJI juga terus memperbanyak informasi terkait manfaat asuransi jiwa dalam memperkuat finansial keluarga serta perencanaan keuangan masa depan melalui tulisan di media sosial. Hal inidilakukan sebagai upaya meningkatkanliterasi masyarakat atas berbagai selukbeluk dan manfaat dari asuransi jiwa.

Contohnya, saat ini AAJI merilis sebuah program lomba penulisan bagi masyarakat luas. AAJI mengangkat tema #bangkitfinancial dalam program yang berjalan sejak 5 Mei hingga 5 Junitersebut. Sedangkan untuk karyawan asuransi jiwa, AAJI juga membuat hal serupa, namun dengan tema #rencanakan keuanganmu. Program untuk karyawan berlangsung hingga akhir Juni ini.

AAJI juga mengedukasi mahasiswa di soal perencanaan keuangan masa depan yang baik dengan asuransi jiwa. Dan yang juga mendapatkan animo tinggi adalah peluang karir di industri asuransi jiwa melaluiWebinar yang akan dilaksanakan pada tanggal 12 bulan ini.

Premi Saluran Bancassurance dan HasilInvestasi jadi Penggerak Kinerja

Dalam Rilis Ringkasan Kinerjanya, AAJImengumumkan bahwa elemen terbesardari pendapatan industri asuransi jiwa berasal dari Premi. Total pendapatan Premi mengalami pertumbuhan sebesar 28,5 persen YoY dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya. Totalnyasendiri mencapai Rp. 57,45 triliun di kuartalpertama tahun ini.

Pada kuartal pertama tahun 2021, total pendapatan Premi dari bisnis baru tercatat Rp. 11 triliun lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Setara dengan pertumbuhan 42,3 persen YoY. Sedangkan persentase Premi lanjutan atau yang dilanjutkan oleh nasabahmengalami kenaikan sebesar 9,3 persen.

Total pendapatan Premi dari bisnis baru senilai Rp. 37,04 triliun tersebut merupakan sumber pendapatan terbesaratau setara 59 persen dari total pendapatanperusahaan yang bernaung di bawah AAJI.Ketua Dewan Pengurus AAJI BudiTampubolon, melihat bancassuranceberperan besar dalam meningkatkan totalpendapatan premi tersebut.

“Menariknya, pertumbuhan total premi ini lebih banyak didorong oleh peningkatan premi yang masif dari saluran distribusibancassurance. Pertumbuhan dari moda saluran yang memanfaatkan kerjasama antara perbankan dan asuransi ini memiliki pertumbuhan sekitar 55% dari periode sebelumnya. Dan hebatnya, bancassurance memiliki kontribusi lebih dari separuh dari total premi yangdidapatkan di kuartal pertama tahun ini.Tepatnya sekitar 53%,” ujar Budi.

Pertumbuhan juga terjadi pada salurandistribusi alternatif sebesar 35,0%, atauberkontribusi sebesar 18,8% pada totalpendapatan Premi. Namun perlambatanterjadi pada saluran distribusi keagenandan telemarketing, masing-masing sebesar 5,8 dan 14,3%.

“Jumlah agen mengalami penurunankarena produktivitas mereka jugaterdampak oleh pandemi. Keterbatasan dalam bertemu secara tatap muka dengan calon nasabah menjadi penyebab utamadari menurunnya produktivitas, walaupunsudah adanya relaksasi yang

diberikan oleh OJK,” tutur Budi. Terkaitdengan ini, Budi berharap Pemerintah bisamendukung upaya AAJI dalam memenuhikebutuhan ausransi masyarakat dan jugapertumbuhan industri asuransi jiwa.

“Pertama, AAJI berharap cara penjualan secara tatap muka tidak langsung diberlakukan secara permanen, terutama di masa pandemi dan pasca pandemi. AAJI memperkirakan pandemi telahmengakibatkan perubahan dalam perilakukonsumen, dimana peranan platform digital semakin meningkat. Untuk itu, AAJI berharap Pemerintah bisa memberikanrelaksasi teknis pemasaran PAYDI untukdiberlakukan secara permanen,” jelas Budi.

“Kedua, AAJI berharap agar revisi regulasiPAYDI dapat membantu menumbuhkanoptimisme pasar unit link denganmemberikan kelonggaran penempataninvestasi pada sub-dana. Tentunya,penempatan investasi akan dilakukandengan memenuhi unsur kehati-hatianberdasarkan hasil penilaian profil risikonasabah,” tambahnya.

Dari jenis produk asuransi jiwa yang laku di Q1 ini, unit link masih menjadi primadona. Unit link secara konsisten selalu menjadi produk yang mendominasi selama beberapa tahun terakhir. Meskipun ekonomi Indonesia masih terdampak akibat pandemi hingga saat ini, penjualanunit link masih bisa tumbuh 31,7% di Q1.Kontribusinya pun sangatlah besar, yakni62,4% dari keseluruhan total Premi industriasuransi jiwa.

Pertumbuhan yang positif serta kontribusi yang signifikan dari saluran Bancassurance serta produk Unit Link menjadi capaian yang positif. AAJI berharap agar Otoritas Jasa Keuangan(OJK) dan regulator terkait dapat terusmendukung perkembangan danpertumbuhan seluruh saluran distribusi dan varian produk yang tersedia bagi masyarakat. Harapannya seluruh saluran distribusi dan produk Asuransi jiwa yang sesuai dengan kebutuhan msyarakat akanterus bertumbuh positif dalam beberapawaktu ke depan.

AAJI meyakini usaha bersama insan asuransi jiwa dan stakeholdernya memegang peranan penting. Koridor pengaturan dan kebijakan best practices yang sesuai dengan kondisi pasar menjadikunci utama menjaga momentum positif ini.AAJI berkomitmen untuk meningkatkanimplementasi prinsip kehati-hatian,melindungi dan mengedukasi nasabahnya.

Komitmen Penuh Menangani PandemiCovid19

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Keuangan, Pajak dan Investasi AAJI Simon Imanto menjelaskan bahwa klaim dan manfaat di Q1 mencapai jumlah Rp. 47,68 triliun. Angka tersebut lebihbesar 23,5% dibandingkan dengan tahunsebelumnya, yang mencapai Rp. 38,6triliun.

AAJI juga menjelaskan komitmennya dalam mendukung penanganan pandemi di Indonesia. Dalam periode Maret 2020 hingga Februari 2021, jumlah polis dengan klaim COVID 19 tercatat mencapai 24.997 polis dengan total klaim senilai Rp 1,46 triliun. Dari jumlah ini, 87,41% diantaranyamemiliki status klaim yang sudah selesaisenilai Rp. 1,28 triliun. Sedangkan 12,59%lainnya masih berstatus dalam prosesklaim senilai Rp. 184,37 miliar.

Sementara itu, dari laporan pembayaran klaim dan manfaat, AAJI menjelaskan bahwa total nilai tebus (surrender) menunjukkan kenaikan signifikan menjadi Rp. 28,54 triliun di Q1 2021 dibandingkan Rp. 21,85 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Menurutnya, ini terjadi akibatpeningkatan kebutuhan masyarakat akanuang tunai sehari-hari.

“Besaran nilai klaim surrender yang mengalami kenaikan sebesar 30,6% memperlihatkan banyaknya pemegangpolis yang melakukan klaim surrenderuntuk mendapatkan dana. Namun, kamimenyarankan nasabah cukup melakukanklaim partial withdrawal agar mereka tetap memiliki sebagian dana sekaligus masihmemiliki perlindungan jiwa,” jelas Simon.

Selain itu, AAJI juga menjelaskan kondisirebound yang terjadi di Q1. Indikasirebound tersebut mulai terlihat dari momen berbaliknya imbal investasi. Jika sebelumnya hasil investasi dana kelola asuransi jiwa mencatat total pendapatan negatif yang cukup signifikan di kuartalpertama tahun lalu, maka kini investasiyang dilakukan sudah positif.

Tercatat, hasil investasi industri asuransijiwa mencapai Rp. 2,44 triliun di Q1 tahunini. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang mencatat kerugian investasi takkurang dari Rp. 47,83 triliun.

Ketua Bidang R&D, Pelaporan dan IT AAJI, Edy Tuhirman menilai bahwa meski kerugian terjadi pada periode sama di tahun lalu, namun banyak pihak menilai bahwa kondisi force majeur pandemi yangmenekan perekonomian sebagai faktorutamanya. Edy meyakini bahwapertumbuhan investasi di Q1 di 2021 ini mengindikasikan awal pulihnya perekonomian kita dari tekanan pandemiCOVID 19 yang berlangsung sejak Maret tahun lalu.

“Perlu dicatat bahwa indikasi pulihnya ekonomi saat ini merupakan momentum yang tidak dapat bertahan selamanya.Secara makro kami melihat bahwakeyakinan berasuransi masyarakat ada kaitannya dengan pemulihan ekonomi makro dan penanganan virus itu sendiri. Dan secara mikro, semua perusahaan dalam AAJI akan selalu meningkatkan literasi. Sembari meningkatkan tata kelola organisasi, baik dari sisi kinerja investasi maupun business process asuransilainnya,” tutup Edy. (*)

LEAVE A REPLY