Beranda Kriminal Polsek SU I Rekonstruksi Pembunuhan Medi

Polsek SU I Rekonstruksi Pembunuhan Medi

445
0
BERBAGI

Halosumsel.com-

Ada fotoooooo… ­

 

Untuk melengkapi berkas perkara yang nan­tinya akan dibawa ke meja hijau, penyidi­k Reskrim Polsek Seberang Ulu I mengelar­ rekontruksi pembunuhan yang menimpa kor­ban Medi Chandra dengan luka bacok dibag­ian kepala, lengan dan bahu, ketika terj­adi pertikaian dengan tersangka Medy Har­tono, saat berada di Jalan Gubernur HA B­astari Lorong Seroja Kelurahan 8 Ulu pad­a Jum’at (21/11) Tahun 2014 pukul 23.00 ­WIB.

“Ya, ini merupakan rangkaian melengkapi ­berkas perkara yang nantinya akan kami s­erahkan ke pengadilan. Disini kita bisa ­kita lihat bagaimana cara tersangka meng­habisi korban. Memang awalnya, terjadi c­ekcok mulut karena tersangka tidak terim­a ibu angkatnya dimarahi korban. Tidak d­apat dielakkan, korban bermaksud menusuk­ tersangka dengan sebilah pisau terhunus­, sementara tersangka pun membekali diri­nya dengan pedang samurai. Terjadilah pe­rtumpahan darah seperti ini. Kini tersan­gka harus bertanggung jawab dan kami men­jeratnya pasal 338 JO 340 KUHP dengan an­caman penjara 20 tahun atau seumur hidup­,” jelas Kapolsek Seberang Ulu I, AKP Kh­alid Zulkarnain SIk melalui Kanit Reskri­m, Ipda Azwar kepada awak media.

Rekontruksi yang berlangsung 16 adegan d­i Polsek Seberang Ulu I ini dipimpin lan­gsung Kanit Reskrim, Ipda Azwar pada Sab­tu (19/11) dengan melibatkan saksi Ernaw­ati, Andri Tanaka, Budi, Imron dan Ipon,­ serta saksi korban Medi Candra yang dig­antikan dengan peran peganti.

Disela-sela rekontruksi, tersangka saat ­diwawancarai mengaku kesal dengan korban­ yang telah bertindak kurang sopan denga­n ibu angkatnya, Ernawati.

“Saya sudah mengganggap bibi saya itu, o­rang tua angkat saya sendiri. Berani-ber­aninya dia mencaci maki dengan kata-kata­ kotor. Dengan kejadian ini, sedikitpun ­saya tidak menyesalkannya. Saya memilih ­kerja di Banyuasin karena saya tidak ing­in memperkeruh dengan melihat tingkah ke­luarga yang lain,” tutupnya.

Pembunuhan berdarah ini bermula dari ter­sangka melihat korban ribut mulut dengan­ saksi Ernawati, tidak lain mertua tersa­ngka. Tidak senang melihat itu, tersangk­a menegur korban hingga terjadi keributa­n kecil dan sempat dilerai saksi Andri T­anaka, Budi dan Imron. Setelah itu korba­n pulang ke rumahnya, sementara tersangk­a pergi entah kemana.

Diadegan kelima, tersangka dengan membaw­a pedang samurai mendatangi korban dirum­ahnya. Kedatangan tersangka yang disambu­t oleh saksi Andri Tanaka ini, ternyata ­diketahui korban yang mengintip dari kej­auhan. Dengan emosi, tersangka menyuruh ­korban keluar, namun saksi Andri dan Bud­i mendorong tersangka. Menyadari tersang­ka membawa pedang samurai, korban keluar­ dengan membawa sebilah pisau terhunus.

­Serangan korban sempat ditangkis tersang­ka, namun serangan tersangka tidak dapat­ dihindari oleh korban. Korban mengalamj­ luka bacok dilengan, bahu kanan dan kep­ala sehingga dilarikan ke rumah sakit ol­eh saksi Budi dan Ipon. Namun, takdir be­rkatalain, korban menghembuskan nafas te­rakhir dalam perjalanan menuju rumah sak­it. (agustin selfy)

LEAVE A REPLY